Surabaya dan Semarang, Ibarat Dua Kota Kembar di Pulau Jawa

Bigzah – Surabaya dan Semarang memang dua kota yang terpisah jauh, berjarak lebih dari 300 kilometer. Kalau ingin menempuh jarak antara kedua kota ini, Anda harus menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam menggunakan bus. Namun, siapa sangka, kedua kota yang terletak di dua provinsi yang berbeda ini bisa dibilang kota kembar. Kok bisa?

Kental Unsur Budaya Tionghoa

Kota Semarang dan Kota Surabaya dikenal sebagai kota yang sama-sama kental dengan budaya Tionghoa. Buktinya terpapar jelas dengan keberadaan kawasan pecinan di kedua kota ini. Di Semarang, kampung pecinan bisa dijumpai ketika berkunjung ke Pecinan Semarang. Sementara kalau ke Surabaya, Anda bisa menjumpainya di Kembang Jepun.

Kawasan Pecinan Semarang menjadi tempat berkumpulnya warga Tionghoa. Di tempat ini, Anda akan merasakan suasana yang jauh berbeda, seperti bukan berada di Jawa Tengah, melainkan di negara Tiongkok. Di Pecinan Semarang, terdapat Klenteng Tay Kak Sie yang telah ada sejak tahun 1772 Masehi.

Memasuki malam hari, Pecinan Semarang diramaikan oleh kehadiran warung-warung pinggir jalan yang menjual berbagai jenis kuliner khas Tiongkok. Tempat ini pun jadi lokasi wisata kuliner wajib bagi Anda yang mengaku pencinta makan. Tempat ini biasa buka pada malam hari, mulai pukul 19.00 hingga 23.00 WIB.

Kondisi tidak jauh berbeda dijumpai di kawasan Kembang Jepun Surabaya. Pada siang hari, Kembang Jempun menjadi pusat perniagaan masyarakat Surabaya. Di sini terdapat pasar, yakni Pasar Pabean, Pasar Bong, Pasar Kapasan, dan Pasar Atum.

Bagi Anda yang tertarik dengan budaya Tionghoa, bisa memilih untuk berkunjung ke Kelenteng Hong Tiek Hian yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Dukuh. Kelenteng ini dikenal sebagai kelenteng tertua di Surabaya. Di sini, Anda berkesempatan menengok pertunjukan Wayang Potehi khas Tiongkok.

Es Krim Legendaris

Kota Surabaya dan Semarang juga sama-sama memiliki kedai es krim legendaris. Di Semarang, berdiri Toko Oen yang telah ada sejak tahun 1936. Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah Toko Oen Semarang memiliki keterkaitan dengan Toko Oen Malang? Sejatinya, iya. Toko Oen Malang dulunya sama-sama dikelola oleh pemilik Toko Oen Semarang. Hanya saja, pada tahun 1990, Toko Oen Malang telah berganti kepemilikan.

Toko Oen Semarang menjanjikan sajian es krim legendaris yang dibuat dengan resep turun temurun. Tidak hanya menyuguhkan es krim legendaris, Toko Oen Semarang juga memberikan suasana klasik kepada para pengunjungnya. Pengunjung yang masuk ke dalam kedai akan merasakan suasana berbeda, terasa seperti melintasi lorong waktu dan pergi menuju ke zaman kolonial Belanda.

Tidak jauh berbeda dengan Toko Oen, Zangrandi merupakan kedai es krim legendaris di Surabaya. Kedai ini didirikan oleh seorang berkebangsaan Italia bernama Roberto Zangrandi pada tahun 1930. Saat ini, pemilik kedai es krim legendaris ini memang bukan lagi keturunan Roberto Zangrandi. Namun, para pengunjung masih tetap bisa merasakan suasana ala Eropa ketika memasuki kedai.

Tugu Muda dan Tugu Pahlawan

Surabaya terkenal dengan Tugu Pahlawan dan juga disebut sebagai Kota Pahlawan. Tugu ini didirikan untuk menghormati jasa para pejuang yang gugur dalam peristiwa 10 November 1945. Di Semarang, ada pula bangunan serupa yang disebut dengan nama Tugu Muda. Seperti halnya Tugu Pahlawan, Tugu Muda merupakan bangunan yang dibuat untuk menghormati para pejuang yang gugur pada Pertempuran Lima Hari Semarang.

Tanjung Emas dan Tanjung Perak

Kota Semarang dan Surabaya juga sama-sama dikenal sebagai kota pelabuhan. Di Semarang, kita mengenal ada Tanjung Emas. Sementara di Surabaya, terdapat Tanjung Perak. Hanya saja, ciri khas dari kedua pelabuhan ini jauh berbeda. Pelabuhan Tanjung Emas memiliki ciri khas pada keberadaan bangunan mercusuar yang lokasinya berdekatan dengan Kantor Pelabuhan. Sementara itu, Tanjung Perak memiliki ciri khas dengan keberadaan Monumen Jalesveva Jayamahe.

Lawang Sewu dan Gedung PTPN

Nah, kemiripan lainnya dari Semarang dan Surabaya bisa dilihat pada keberadaan Gedung Lawang Sewu dan Gedung PTPN. Lawang Sewu dikenal sebagai salah satu tempat wisata populer di Semarang. Tempat ini juga terkenal angker dan menjadi lokasi eksekusi pejuang yang dianggap memberontak oleh penjajah Belanda.

Gedung PTPN memang tidak semegah Lawang Sewu. Namun, gedung ini memiliki desain klasik yang tidak kalah bagusnya dibandingkan Lawang Sewu. Seperti halnya Lawang Sewu, Gedung PTPN ternyata juga memiliki kisah memilukan. Tempat ini pernah digunakan sebagai lokasi eksekusi pemberontak oleh penjajah Belanda. Bahkan, sering muncul kisah mistis di sekitar Gedung PTPN.

Kemiripan tersebut memberikan keuntungan bagi seorang warga Semarang yang berkeinginan untuk mencari rumah murah di Surabaya. Pun halnya kalau ada warga Surabaya yang tertarik pindah dan mencari rumah dijual di Semarang. Terutama karena proses adaptasi yang tidak terlalu sulit. Ditambah lagi, kedua kota ini sama-sama menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa komunikasi sehari-hari. Meski, terdapat sedikit perbedaan dialek.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *